Oknum Pemda di balik Meruya

Wah…

 Ternyata yang untung temen-temen sama anak buah si abang juga.

Jangan-jangan si abang ikut kecipratan nih.

Anak betawi
- nggak mau bikin sengsara rakyat

Banyak Pejabat DKI Kecipratan Tanah Meruya

Selasa, 15 Mei 2007, 12:45:14

Jakarta, Rakyat Merdeka. PT Portanigra meminta Komisi A (bidang pertanahan) DPRD DKI Jakarta bersama-sama untuk menuntaskan kasus sengketa lahan seluas 78 hektar di Meruya Selatan, Jakarta Barat, dengan mencari pihak-pihak yang telah melakukan tindak kejahatan penipuan kepada warga setempat.

“Kita ingin ajak bicara pihak-pihak yang punya sertifikat. Dewan harus tegakkan supremasi hukum. Prinsip saya, warga tak boleh dirugikan karena tak tahu-menahu tapi pelaku kejahatan baik dari kalangan aparat pemprov, BPN maupun pihak terkait harus ditindak tegas,” ujar Yan Djuanda, kuasa hukum PT Portanigra, di Gedung Dewan, Selasa (15/5).

Yan menjelaskan kepada Komisi A bahwa pihaknya telah membeli lahan warga ratarata sebesar Rp 350 ribu. Dari angka tersebut, disinyalir telah diselewengkan oleh sejumlah aparat pemerintah maupun para calo tanah saat itu. “Kita beli rata-rata Rp 350 ribu. Sebanyak Rp 100 ribu dinikmati oleh lurah saat itu, 50 ribu oleh kecamatan dan 50 ribu oleh pihak perantara,” papar Juanda.

Terkait dengan kepemilikan tanah pemerintahan provinsi di lahan sengketa tersebut, tambah pria berambut putih ini, hingga kini PT Portanigra tidak bisa menggugat Pemprov DKI karena sudah tidak memiliki dokumen. “Dokumen sudah dimusnahkan, kita tidak bisa menggugat pemerintah provinsi. Ini dikarenakan membeli dari orang yang salah,” tukasnya. yat

~ by anak betawi on May 15, 2007.

2 Responses to “Oknum Pemda di balik Meruya”

  1. Makanye si Abang kebakaran kumis karena merasa juga ikut bertahun-tahun di PEMDA DKI mengetahui adanya permainan tanah oleh bawahannya, OLEh KARENA ITU SI ABANG juga BAGIAN DARI KORUPSI DI DKI …

  2. some nice article that i read on Perspektif online :)
    http://www.perspektif.net/indonesian/article.php?article_id=664
    and
    http://www.perspektif.net/indonesian/article.php?article_id=663

Leave a Reply