Malah terpuruk karena kayak golkar

•May 22, 2007 • Leave a Comment

Mau ngidupin gaya orba,

si abang malah terpuruk. nyusruk

Anak betawi
-anti gaya orba

 http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=4694&c_id=21&g_id=286

Terkait Pemecatan Wimar Witoelar
Citra Fauzi Justru Makin Buruk
- redaksi berpolitik

(berpolitik.com):: Langkah Jak TV menggusur Wimar Witoelar disesalkan. Bahkan, dinilai justru membuat citra Fauzi Bowo makin buruk.

Meski tak eksplisit, ada tangan-tangan kekuasaan yang bermain dibalik pendepakkan Wimar Witoelar dari acara “Gubernur Kita” yang tayang tiap Kamis malam di Jakarta TV. Dari keterangan yang disampaikan Jak TV kepada Wimar, pemecatan itu merupakan tindak lanjut dari keberatan yang dilayangkan orang-orang dekatnya Fauzi Bowo menyusul komentar pengelola situs perspektif online ini mengenai kampanye terselubung Fauzi Bowo yang ditengarai mempergunakan dana APBD.

“Kali ini sih bukan Fauzi langsung, katanya orang-orang dekatnya Fauzi,’ ujar Wimar kepada berpolitik.com. Sebelumnya, Wimar juga pernah nyaris digusur dari acara yang sama lantaran sejumlah komentarnya telah membuat gusar Sutiyoso, Gubernur Jakarta. Meski tak digusur dari Gubernur Kita, Wimar terpaksa merelakan acara yang dipandunya secara pribadi, Wimar’s World dihentikan produksinya.

“Keberadaan kami sangat tergantung kepada Sutiyoso,” begitu pembelaan yang kemukakan jajaran Jak TV kepada Wimar mengenai sikap mereka yang terkesan mengikuti saja kemauan para petinggi di Jakarta ini.

Tindakan Sutiyoso ataupun orang-orang dekatnya Fauzi Bowo dinilai sebagai bentuk intervensi kekuasaan. “Ini sungguh disesalkan,” ujar anggota Komisi Penyiaran Indonesia, Bimo Nugroho Sukandatmo prihatin. Menurut Bimo, tidak seharusnya Jak TV takut terhadap Sutiyoso. Pasalnya, Gubernur tidak memiliki kewenangan untuk mencabut penggunaan frekuensi siaran yang dipergunakan Jak TV. Sebab, itu merupakan kewenangan KPI.

Dalam pandangan Bimo, Jak TV sebenarnya bisa memfasilitasi terjadinya debat terbuka antara pihak Fauzi dengan Wimar untuk mengklarifikasikan berbagai pandangan dan pernyataan “Kalau perlu di acara yang sama, di Gubernur Kita itu,” ucapnya ketika dihubungi berpolitik.com via telepon.

Citra Fauzi Makin Buruk
Di hubungi terpisah, analis ekonomi Faisal Basri berpendapat langkah pemecatan terhadap Wimar sebenarnya justru makin merugikan citra Fauzi Bowo sendiri. Menurut Faisal, tak soal apakah yang melakukan itu orang-orang dekatnya atau memang atas kehendak dirinya sendiri. Selama Fauzi membiarkan atau tak membantahnya, berarti dia bisa dianggap menyetujuinya.

Jadi,”Jangan salahkan orang lain jika ada anggapan, ‘baru jadi calon saja sudah begitu, bagaimana jika sudah benar-benar jadi Gubernur,” ujarnya prihatin.

Menurut Faisal, semestinya Fauzi datang saja ke acara Gubernur Kita dan mengklarifikasi apa yang dipertanyakan oleh Wimar dan bukannya justru ‘meminta’ Jak TV menggusur Wimar dari acara itu. Dengan melakukan itu, persepsi publik terhadap Fauzi akan semakin minor. “Ia bakal dianggap tak demokratis,” ucap Faisal Basri yang tengah berada di Balikpapan saat dihubungi oleh berpolitik.com.

Menurut penilaian Faisal yang juga pernah tampil beberapa kali dalam acara Gubernur Kita, pertanyaan dan lontaran yang disampaikan Wimar sebenarnya bukan sesuatu yang mengada-ada atau punya maksud terselubung. Wimar, kata Faisal, hanya memformulasikan kembali apa yang menjadi pertanyaan masyarakat secara jelas dan tanpa tedeng aling-aling.

“Setahu saya, Fauzi kan disokong tim yang kuat dan berkualitas. Jadi, sebenarnya mereka sudah bisa menerka pertanyaan seperti apa yang bakal dilontarkan Wimar. Berdasarkan itu, mereka bisa melatihnya pada Fauzi agar bisa memberikan jawaban yang tepat. Saya heran, mengapa (Fauzi) mesti takut,” ujarnya lagi.

Yang membuat dirinya kian prihatin, penggusuran terhadap Wimar dengan sendirinya turut mengubur acara yang sebenarnya bermanfaat bagi pendidikan politik para pemilih di Jakarta. Kredibilitas acara ini, kata dia, pasti tercoreng dengan adanya kasus pemecatan tersebut. Di tilik dari sudut pandang sebagai kandidat, Faisal mengaku acara itu sebenarnya juga amat membantu.

“Sebagai kandidat, kita mendapat keleluasaan untuk menampilkan gagasan-gagasan kita secara gratis. Kalau untuk membeli jam siaran kan mahal. lagi pula, dengan citra sebagai acara yang independen dan tak memihak, pemirsa lebih terdorong untuk menonton. Yang tak kalah penting, pemirsa juga lebih tidak resisten terhadap informasi yang diterimanya ketimbang jika itu diperolehnya dari sebuah acara yang kadung dinilai pemirsa sebagai acara bayaran,” tandasnya

Golkarnye mulai keluar nih

•May 22, 2007 • Leave a Comment

Wah..wah, belon ngejabat udah kayak diktator!

Si abang bakalan bikin zaman golkar balik lagi ke jakarte nih.

anak betawi
-sumpah anti golkar abizz

21/05/2007 18:49 WIB

Kritisi Fauzi Bowo, Wimar ‘Ditendang’ dari ‘Gubernur Kita’
Arfi Bambani Amri – detikcom

Jakarta – Diduga lantaran mengkritik calon gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo,
Wimar Witoelar diberhentikan sebagai panelis tetap dalam acara talk show
‘Gubernur Kita’ yang ditayangkan JakTV.

“Saya diberhentikan tadi pagi. Disampaikan secara lisan, berkali-kali
berhubungan dengan staf saya,” ungkap Wimar saat dihubungi detikcom, Senin
(21/5/2007).

Pernyataan lisan itu, menurut Wimar, disampaikan oleh Produser JakTV Martin
Mohede. “Janjinya mau memakai surat, tapi sampai malam ini belum saya
terima,” kata Wimar.

Apa alasan Martin memberhentikan Wimar sebagai panelis dalam acara yang
digelar setiap Kamis malam itu? “Dia minta saya mengundurkan diri karena
mengganggu kenyamanan Fauzi Bowo,” kata Wimar menyebutkan alasan Martin.

Wimar menyebutkan JakTV telah dihubungi oleh para staf Fauzi Bowo usai acara
‘Gubernur Kita’ pada Kamis 17 Mei 2007 lalu. Tak lama setelah acara usai,
Martin, seperti diungkapkan Wimar, dihubungi oleh para staf Fauzi Bowo.

“Dia (Martin) bilang atas konsultasi dengan mereka, saya dikeluarkan,” kata
Wimar.

Acara ‘Gubernur Kita’ ini telah berlangsung sejak Agustus 2006. Selain
Wimar, panelis lain dalam acara yang dipandu Effendi Ghazali ini adalah
Ryaas Rasyid. (aba/sss)

Source : detik.com
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/05/tgl/21/time184911/idnews/783013/idkanal/10

Oknum Pemda di balik Meruya

•May 15, 2007 • 2 Comments

Wah…

 Ternyata yang untung temen-temen sama anak buah si abang juga.

Jangan-jangan si abang ikut kecipratan nih.

Anak betawi
- nggak mau bikin sengsara rakyat

Banyak Pejabat DKI Kecipratan Tanah Meruya

Selasa, 15 Mei 2007, 12:45:14

Jakarta, Rakyat Merdeka. PT Portanigra meminta Komisi A (bidang pertanahan) DPRD DKI Jakarta bersama-sama untuk menuntaskan kasus sengketa lahan seluas 78 hektar di Meruya Selatan, Jakarta Barat, dengan mencari pihak-pihak yang telah melakukan tindak kejahatan penipuan kepada warga setempat.

“Kita ingin ajak bicara pihak-pihak yang punya sertifikat. Dewan harus tegakkan supremasi hukum. Prinsip saya, warga tak boleh dirugikan karena tak tahu-menahu tapi pelaku kejahatan baik dari kalangan aparat pemprov, BPN maupun pihak terkait harus ditindak tegas,” ujar Yan Djuanda, kuasa hukum PT Portanigra, di Gedung Dewan, Selasa (15/5).

Yan menjelaskan kepada Komisi A bahwa pihaknya telah membeli lahan warga ratarata sebesar Rp 350 ribu. Dari angka tersebut, disinyalir telah diselewengkan oleh sejumlah aparat pemerintah maupun para calo tanah saat itu. “Kita beli rata-rata Rp 350 ribu. Sebanyak Rp 100 ribu dinikmati oleh lurah saat itu, 50 ribu oleh kecamatan dan 50 ribu oleh pihak perantara,” papar Juanda.

Terkait dengan kepemilikan tanah pemerintahan provinsi di lahan sengketa tersebut, tambah pria berambut putih ini, hingga kini PT Portanigra tidak bisa menggugat Pemprov DKI karena sudah tidak memiliki dokumen. “Dokumen sudah dimusnahkan, kita tidak bisa menggugat pemerintah provinsi. Ini dikarenakan membeli dari orang yang salah,” tukasnya. yat

Tebar pesona di Meruya, ternyata ngegusur juga!

•May 10, 2007 • 1 Comment

Apa bener?

Aye dapet kutipan dari berbagai sumber tentang si abang yang tukang serobot tanah. Sekarang die tebar pesona di Meruya.

si abang kudu jelasin duduk perkaranya nih!

Wah, itu namanye kuman di seberang mall tapak gajah di jidat si abang nggak keliatan! Gimana keliatan, tu gajah nutupin mata si abang dong ye…

anak betawi
- anti gusur sembarangan

Ini datanye diambil dari sebuah situs:

Essential Governor Qualities: Love of Justice, Respect for the Law, Transparency & Humanity

OPEN LETTER TO GOVERNOR OF JAKARTA CANDIDATE SURAT TERBUKA UNTUK KANDIDAT GUBERNUR

FAUZI BOWO

(in English and Bahasa Indonesia)

Dr. Ing. H. Fauzi Bowo

Wakil Gubernur/ Vice-Governor DKI Jakarta

Alamat Kantor/Office Address : Jl. Merdeka Selatan (Balai Agung), Jakarta.

Alamat Rumah/Home Address : Jl. Teuku Umar 24 Menteng Jakarta-Pusat (Central Jakarta), INDONESIA.

Yang terhormat Fauzi,
Saya memasang surat terbuka di internet ini dikarenakan saya telah menulis beberapa kali kepada anda tetapi belum pernah menerima penghormatan yang sama atas jawaban mengenai persoalan kemanusiaan, keadilan, pandangan dan penghormatan yang benar terhadap hukum. Semuanya ini benar-benar atas dasar keprihatinan saya terhadap tanggung jawab masa depan yang akan diemban oleh Gubernur dari Ibukota Negara Indonesia.

Seperti anda ketahui, pada bulan November 2002, saya dipenjarakan sama sekali atas tuduhan palsu sehingga sepupu anda, Sherisada Manaf (Richardson) dapat mengambil dengan cara illegal yayasan dan 2 sekolah saya (Khresna International Education Foundation atau dikenal sebagai KIEF School dan Jakarta International Montessori School (JIMS), Komplek ISCI, Jl. Ciputat Raya No. 2 Jakarta 12063 serta Balikpapan Independent Personal School (BIPS), Vilabeta Residence No. 26, Jl. Marsma Iswahyudi, Gunung Bakaran, Balikpapan), rumah yang saya bangun, tabungan-tabungan saya, seluruh barang-barang pribadi saya dan yang sangat lebih tidak manusiawi adalah 2 anak saya.

Meskipun laporan forensik palsu diperoleh dengan cara menyuap dari Dr. Teguh Daryatno, RS International Bintaro, beberapa perwakilan saya memberitahukan bahwa pengaruh anda ada dibelakang ketidakadilan yang tidak manusiawi atas penangkapan, deportasi dan pengambilan barang-barang pribadi saya.
Atas pelanggaran terhadap keluarga saya dan saya, korupsi, pidana, putusan yang buruk, ketidakadilan, ketidakhormatan terhadap hukum dan ketidakmanusiawian telah memainkan peranannya. Saya sarankan kepada anda dan siapapun yang membaca surat ini bahwa siapapun dengan karakteristik negatif tidak cocok menjadi Gubernur Ibukota Indonesia.

Tidak diragukan anda merupakan orang yang sangat kompeten dalam banyak bidang professional, tetapi bila anda terpilih sebagai Gubernur pada bulan Agustus, saat ini anda harus menunjukkan bahwa anda mempunyai kualitas karakter yang diharapkan dari seorang pemimpin di Negara Indonesia yang menuju pembaharuan dan perkembangan. Saya minta anda membuktikannya dengan cara:
1. Menunjukkan penghormatan terhadap hukum dengan menginstruksikan Polda Metro Jaya untuk menginvestigasi kejahatan terhadap anak-anak saya dan saya sehingga keadilan (saya bukan ingin balas dendam, hanya kebenaran dan keadilan) dapat dilaksanakan.
2. Menjalankan pemerintahan dengan layak, sama sekali transparan dan dapat dipertanggungjawabkan secara keseluruhan dan
3. Menyokong saya atas misi tak mementingkan diri sendiri, berperikemanusiaan untuk memajukan pendidikan dan memberantas kemiskinan melalui kegiatan usaha di daerah Jakarta Raya.

Anda merupakan paman sepupu anak-anak saya dan saya ingin mereka dan seluruh penduduk Jakarta dan bangsa Indonesia berpikir baik tentang anda. Saya sangat berharap anda tidak akan mengecewakan kami.
Salam,
Frank Richardson

Dear Faulkner (aka Fauzi),

I am posting this open letter on the internet because I have written to you several times, but have never received even the courtesy of a reply about an issue of humanity, justice, good judgment and respect for the law. These are all essential concerns for any future responsible governor of Indonesia’s capital city.

As you know, in November, 2002, I was jailed on entirely false charges so that your cousin, Sherisada Manaf (Richardson), could illegally take my foundation and two schools from me (Khresna International Education Foundation, otherwise known as KIEF Schools, and the Jakarta International Montessori School (JIMS), Komplek ISCI, Jalan Ciputat Raya No. 2, Jakarta 12063, and Balikpapan Independent Personal School (BIPS), Vilabeta Residence No.26, Jl. Marsma Iswahyudi, Gunung Bakaran, Balikpapan), the home I built, my savings, all my personal possessions and, most inhumanely of all, two of my children.

Although a false forensic report was obtained corruptly from a Dr. Teguh Daryatno of R.S. Internasional Bintaro, several of my representatives confirmed that your influence was behind the inhumane injustice of my arrest, deportation and dispossession.

In this violation of my family and me corruption, criminality, bad judgment, injustice, disrespect for the law and inhumanity have all played a part. I would suggest to you and others who read this letter, that any person with these negative traits is not suitable for governor of Indonesia’s capital.

Undoubtedly you are a man who is very competent in many professional areas, but if you are to be elected governor in August you must now show that you have the qualities of character required of a leader in the new and emerging Indonesia. I ask that you prove this by:
Demonstrating respect for the law by instructing Polda Metro Jaya to investigate the crimes against my children and me so that justice ( I seek no revenge, only the truth and justice) can be done,
Committing your administration to be ethical, entirely transparent and wholly accountable in all that it does, and
Supporting me on a selfless, humanitarian mission to improve education and relieve poverty through enterprise in the area of greater Jakarta.

You are second-cousin to my children and I would like them and the citizens of Jakarta and the people of Indonesia to think well of you. I do hope you will not disappoint us.

Salam

Frank Richardson

Email: fdr@SPAMinter-didactic.com after removing the word “SPAM”.
Dignified, fulfilled, purposeful, responsible and compassionate lives for all.

Plang Sakti

•May 2, 2007 • 4 Comments

Ini plang yang paling ditakuti satpol pp jakarta dan tramtib jakarta.
Maklum deh… ada si abang jadi ‘cover boy’ sih.

Anak betawi
- anti plang sakti dari korupsi

 plang.jpg

Gambar siapa tuh yang ngotorin Jakarta?

•May 2, 2007 • 5 Comments

Biar adil nih.
Kalo mo dicabut, ya dicabut semua aja dong bang. Jangan cuma spanduk, pamflet atawa stiker aja.

Ade tuh yang lebih ngotorin Jakarta. Itu loh yang betebaran dalam bentuk plang-plang yang isinya nge-gedein wajah si abang. Malah plang-plang yang entu udah nongol jauuuuuuuh banget sebelum pilkada. Ibarat artis yang ngebet ngetop tapi ngga pake duit sendiri, malah make duit pemberantasan narkoba. Tapi aneh, nggak pernah digubris tuh.

Herannya lagi, itu plang-plang nggak pernah dibersiin sama satpol pp. Apa mentang-mentang si abang bosnya satpol pp. Padahal die ngotorin halaman kelurahan, perempatan, sampe pintu-pintu ruma warga. Ampun deh!

Ini contoh plangnye:

 
Bilangnye sih ngebersihin tapi malah bikin ngebala abiz… Lumayan nih, daripada ngotorin Jakarta, bagusnya dikiloin aja sama pemulung.

Anak betawi
- anti ngotorin Jakarta

 

 

“Para Cagub Mohon Bersabar, Kalau Mau Berpose Ada
Waktunya”

Rabu, 02 Mei 2007, 11:14:19

Jakarta, Rakyat Merdeka. Maraknya spanduk dan poster para calon gubernur yang akan mengikuti ajang pilkada langsung Jakarta 2007 mengundang reaksi keras dari aparat Tramtib dan Linmas DKI Jakarta akhir-akhir ini. Sejumlah kawasan yang terdapat spanduk tersebut mulai ditertibkan.

Menanggapi hal itu, Ketua Badan Pemenanga Pemilu DPD PDI Perjuangan Audi Tambunan, Rabu (2/5), mengatakan penertiban itu sangat wajar dilakukan oleh aparat. Sebab, tempelan gambar calon gubernur yang belum waktunya kampanye itu akan sangat merusak keindahan kota.

“Saya rasa pantas kalau aparat melakukan pembersihan sementara waktu. Apalagi, para walikota di lima wilayah sedang sibuk menyiapkan untuk Adipura. Saya kira semua pihak harus bersabar, karena mayarakat juga tau kalau calon gubernurnya kemungkinan besar hanya dua orang itu saja (Fauzi dan Adang),” ujarnya.

Wakil ketua DPD PDIP ini juga menyarankan kepada para tim sukses calon gubernur agar tidak keburu nafsu untuk menampilkan jagonya dengan bentuk penempelan poster dan spanduk. Sebab, pada saatnya KPUD DKI memberikan jadwal kampanye, maka semua cagub bebas memasang foto dalam bentuk apapun.

“Kalau sudah masuk jadwal kampanye, semua calon gubernur bebas berpose di depan publik, sehingga tak perlu curi start. Mau gaya coverboy, mau gaya superman, terserah saja. Yang penting sabar supaya pemasangan spanduk dan poster tidak sia-sia,” tutur Audi. yatdari situs rakyat merdeka klik di sini.

Problem si abang menurut Om Wim

•May 2, 2007 • 1 Comment

Kalu kata Om Wimar nih….

Ternyata semua cagub kite punya problem. Termasuk dan terutama  si abang! karena kita lagi ‘melototin’ si abang, ya kita bahas aje problemnye:

Problem Kandidat Fauzi Bowo adalah bahwa dia segan ditanyai di depan umum. Tidak pernah muncul di ‘Gubernur Kita’, sedangkan yang lain – termasuk balon yang tersisih – sudah tampil secara sportif. Tapi tidak bisa disalahkan juga kalau tim Fauzi Bowo kurang semangat menampilkannya di televisi, karena ia mudah kehilangan kesabaran. Mungkin perlu konsultan komunikasi yang lebih pandai. Beban Fauzi adalah berat. Seperti Sarwono, kelemahan Fauzi ada pada kekuatannya. Modal dia menjadi calon adalah pengalaman sebagai Wakil Gubernur DKI dibawah Sutiyoso. Tapi posisi itu juga menjadi kelemahannya. Fauzi Bowo harus menentukan sikap. Apakah membela prestasi Sutiyoso, atau melepaskan diri dari tanggung jawab mengenai korupsi dan kegagalan pemerintah DKI dalam mengatasi banjir, masalah orang miskin, dan kemacetan lalulintas. Problem lain bagi Fauzi Bowo adalah bahwa dia didukung koalisi yang begitu besar sampai calon Wakil Gubernur belum bisa disepakati padahal pendaftaran KPUD tinggal beberapa hari.

Ternyata, menurut Om Wimar, si abang ini punya masalah berikut:

1. mudah kehilangan kesabaran! Wadoh! rakyat bisa kudu ati-ati ngomong di depan si abang.
2. punya andil sama kejelekkan jakarta, dari banjir, korupsi ampe kemacetan
3. ribet sama koalisi sampe susah nentuain cawagub. Apalagi ntar buat “ngebayar jasa” dong?

Anak betawi
- Ogah milih pemimpin yang nggak sabaran

Tiga Kandidat dengan

Tiga Problem Berbeda

Koran Sindo 30 April 2007

Oleh Wimar Witoelar

Akhirnya pemilihan Gubernur DKI mengerucut pada tiga calon, walaupun belum resmi sampai saat nama-nama diajukan kepada KPUD. Tapi sebagai bahan pertimbangan, sudah 90% pasti bahwa ketiga calon itu adalah Adang Daradjatun, Fauzi Bowo dan Sarwono Kusumaatmadja. Karena untuk pertama kalinya penduduk Jakarta akan memilih Gubernur mereka secara langsung, bagus juga kalau kita bisa membedakan tiga calon itu, sebab memang beda. Saya tidak setuju dengan orang skeptis yang mengatakan bahwa memilih itu percuma, karena yang diumbar hanya janji-janji. Dimana-manapun, apakah di Perancis, di Amerika Serikat dan di Australia, kampanye memang ajang janji. Kita tidak perlu komplain karena kita juga yang bisa menyisihkan kandidat yang tidak tulus janjinya, dan kita bisa memilih orang yang lebih bisa dipercaya.

Pilihan orang pasti harus subyektif, jadi kalau kita bukan tim kampanye, lebih baik kita mengenal ketiga calon daripada mempromosikan salah satu. Yang paling mudah adalah melihat apa problem yang akan dibawa masing-masing calon kedalam kampanye sampai saat orang masuk kotak suara. Tidak perlu penekanan terlalu jauh kepada ‘visi misi dan program’, sebab justru kalau tidak senang mendengar janji, dalam ‘visi misi dan program’ itulah janji akan muncul. Pernyataan kandidat mengenai point substansi penting, bukan untuk ditangkap sebagai janji, tapi untuk kelihatan keberpihakan kandidat kalau ditanya issue yang membutuhkan sikap.


Apa perbedaan Adang Daradjatun, Sarwono Kusumaatmadja, dan Fauzi Bowo?

 

Misalnya Adang Daradjatun ditanya dalam ‘Gubernur Kita’, acara televisi tiap Kamis malam di JakTV:

WW: Karena anda dicalonkan oleh sebuah partai yang bermoral tinggi atau diyakini sebagai partai yang mempunyai nilai moral, saya ingin tanya apa anda akan mendukung penutupan tempat-tempat hiburan yang tidak halal walaupun itu mendatangkan penghasilan bagi daerah?
Adang Daradjatun: Pasti saya tidak tutup!
WW: Tidak akan tutup?
Adang Daradjatun: Pasti tidak!
WW: Partai juga setuju tidak ditutup?
Adang Daradjatun: Setuju tidak ditutup.

Percakapan ini otentik, bahkan bisa dilihat dengan mudah melalui video clip agar tidak ada keraguan.

Kandidat Sarwono tidak ditanya soal tempat hiburan sebab tidak ada gelagat dia akan menutupnya. Sarwono ditanya soal korupsi:

WW: Persepsi di Jakarta adalah bahwa segala macam masalah, seperti banjir, dasarnya adalah korupsi dan kekuasaan yang tidak terkendali. Bahwa kantor Gubernur Jakarta banyak memberi tekanan kepada pengusaha, kepada media, kepada televisi. Anda orang santun dan bukan orang keras, apakah anda merasa kalau Bapak jadi Gubernur bisa membuat pemerintah DKI itu tidak korup dan tidak menekan?
Sarwono Kusumaatmadja : Saya kira bisa dan..
WW: Ya bisa, bagaimana caranya?!
Sarwono Kusumaatmadja: Pertama kita mulai dari diri sendiri lah. Dan pengalaman saya, birokrasi itu sangat menghiraukan teladan dari pemimpinnya. Kalau yang di atas itu beres, ke bawah beresnya relatif cepat.

Percakapan inipun dilaporkan dalam teks dan bisa dilihat dalam rekaman video.

Tidak ada maksud tulisan ini untuk menilai kandidat mana yang jawabannya bagus dan mana yang jelek. Kami menulis, anda menilai. Sayang sekali bahan dari kandidat Fauzi Bowo belum ada karena dia belum muncul di Gubernur Kita. Konon kabarnya dia cepat marah kalau ditanya yang susah, tapi kita harus lihat sendiri, mungkin saja itu propaganda lawan.

Yang ingin kita lihat adalah problem yang menjadi beban awal kandidat Gubernur memasuki kampanye tahap publik. Banyak orang yang piawai dalam lobby partai dan membuat deal dengan kelompok masyarakat, tapi untuk pertama kalinya, pemilihan Gubernur DKI akan dilakukan dengan cara langsung. Jadi terserah apa yang sudah dipersiapkan dalam partai dan dalam negosiasi kelompok, tapi pada waktu memasukkan pilihannya kedalam kotak suara, pemilih akan mengikuti kata hatinya, mungkin sesuai rasio mungkin juga tidak.

Problem Kandidat Adang Daradjatun adalah karena dicalonkan PKS, maka dia harus memilih antara konsisten dengan ideologi PKS yang tidak senang tempat hiburan yang tidak halal, atau selera orang biasa di DKI, yang tidak senang pilihan orang ditentukan aliran tertentu. Bisa saja Adang disenangi pemilih umum tapi tidak disenangi warga PKS, atau sebaliknya. Untung wakil kandidat adalah Dani Anwar yang – berbeda dengan Adang memang tokoh PKS, jadi dia yang bisa ‘menyambung’ sikap Adang dengan sikap partai. Akan menarik untuk melihat, akhirnya kemana condongnya kampanye Adang.

Problem Kandidat Sarwono Kusumaatmadja bersumber pada kekuatannya sebagai orang yang sangat berpengalaman dalam politik. Pernah jadi aktivis mahasiswa, anggota DPR, pimpinan partai, anggota kabinet empat atau lima kali, anggota DPD. Dia dikenal bersih dan jujur. Tapi dia tidak dikenal pernah membasmi korupsi. Dengan tingkat korupsi DKI yang endemik dari atas sampai bawah, apakah dia akan mampu? Wakil kandidat adalah Jeffry Geovanie yang sebaliknya dari Sarwono. Kalau Sarwono paling pengalaman diantara kandidat Gubernur, Jeffry paling tidak berpengalaman diantara kandidat Wakil Gubernur. Kalau Sarwono sering memenangkan kampanye termasuk kemenangan besar Golkar di tahun 1988, Jeffry dua kali kalah dalam dua kampanye, yaitu kampanye Amien Rais for President dan kampanye Jeffry Geovanie untuk Gubernur Sumatra Barat. Akan menarik untuk melihat, kemana perkembangan kekuatan kandidat ini.

Problem Kandidat Fauzi Bowo adalah bahwa dia segan ditanyai di depan umum. Tidak pernah muncul di ‘Gubernur Kita’, sedangkan yang lain – termasuk balon yang tersisih – sudah tampil secara sportif. Tapi tidak bisa disalahkan juga kalau tim Fauzi Bowo kurang semangat menampilkannya di televisi, karena ia mudah kehilangan kesabaran. Mungkin perlu konsultan komunikasi yang lebih pandai. Beban Fauzi adalah berat. Seperti Sarwono, kelemahan Fauzi ada pada kekuatannya. Modal dia menjadi calon adalah pengalaman sebagai Wakil Gubernur DKI dibawah Sutiyoso. Tapi posisi itu juga menjadi kelemahannya. Fauzi Bowo harus menentukan sikap. Apakah membela prestasi Sutiyoso, atau melepaskan diri dari tanggung jawab mengenai korupsi dan kegagalan pemerintah DKI dalam mengatasi banjir, masalah orang miskin, dan kemacetan lalulintas. Problem lain bagi Fauzi Bowo adalah bahwa dia didukung koalisi yang begitu besar sampai calon Wakil Gubernur belum bisa disepakati padahal pendaftaran KPUD tinggal beberapa hari.

Sungguh beban yang berat bagi Fauzi Bowo, sama dengan Adang Daradjatun dan Sarwono Kusumaatmadja. Tiga-tiganya menghadapi problema berat, walaupun berbeda.

Bahagialah warga DKI yang menikmati kemajuan demokrasi sehingga bisa memilih diantara tiga calon berdasarkan penampilan mereka dalam sorotan publik, bukan dibelakang billboard dan iklan televisi. Uang milyardan sudah dihabiskan untuk propaganda, tapi kita yakin pendudk DKI tidak akan terpengaruh oleh iklan, karena sudah tahu penderitaan banjir, kemacetan jalan, meningkatnya kemiskinan kalau salah pilih Gubernur.

* Aslinya klik disini. Tulisan ini dimuat di Koran Sindo 30 April 2007

Anggaran Pendapatan dan Belanja untuk Diselewengin

•April 27, 2007 • 2 Comments

Nah ini yang bikin aye miris.

Kalo caranya begini, kan nggak salah kalo ada yang bilang APBD sebagai Anggaran Pendapatan dan Belanja untuk Diselewengin si abang. Wadoh!

Jelek-jelek gini aye juga warga Jakarte yang bayar pajak, yang entu pajak dikumpulin dalam APBD kite.

Nah! Kite pasti nggak bakal rela dong kalo pajak rakyat tersebut ternyata dipake sama si abang buat kampanye die! Kudunye sih, kampanye tuh modal kendiri dong bang! 

Kalo tu pajak tu buat bangun sekolahan, puskesmas, jalan becek, wah kite mah rela banget. Namanya itu pajak dari rakyat untuk rakyat. 

Lha ini diselewengin untuk kampanye pilkada, dengan diselubungi istilah, apa tuh namanye? Cucumber eh…. incumbent.

Anak betawi
- ogah pajaknya diseleweingi si abang 

====

Cagub Incumbent Diuntungkan Ultah Jakarta

Jumat, 27 April 2007, 13:17:40

Jakarta, Rakyat Merdeka. Calon gubernur Fauzi Bowo yang diusung koalisi besar 16 partai politik diuntungkan dengan jadwal kampanye yang bersamaan dengan ingar-bingar Ulang Tahun Jakarta.

Sebagai cagub incumbent (masih menjabat) wakil gubernur, Foke dikhawatirkan akan memanfaatkan masa-masa Ultah Jakarta yang jatuh pada 22 Juni 2007.  Sementara masa kampanye mulai 21 Juli hingga 4 Agustus. Dalam rentang ini berbagai keramaian menyambut hari jadi Jakarta akan dimanfaatkan Foke untuk berkampanye dengan mengunakan APBD.Politisi Partai Keadilan Sejahtera Rois Hadayana Saukie kepada

Situs Berita Rakyat Merdeka, Jumat (27/4), tidak gusar dengan kekhawatiran sebagian kalangan itu. “Memang ini sebuah kebetulan. Kita kembalikan ke hati nurani,” kata Rois.

“Memang PP 25/2007 yang mewajibkan incumbent harus cuti sangat rawan memanfaatkan dana APBD akibat berbarengan dengan acara yang dibuat Pemprov DKI Jakarta.

Mengenai munculnya isu bahwa jadwal kampanye itu hasil rekayasa karena ada penyusup ke KPUD, Rois berpendapat kemungkinan itu tidak masuk akal. “Juli itu merupakan masa kampanye yang dihitung dari masa akhir jabatan gubernur saat ini,” kata Rois.

Namun demikian, Rois berharap peranan para pemantau independen bisa menyuarakan pentingnya para calon gubernur mengedepankan kode etik pada masa kampanye. “Kalau ada pemanfaatan maka tugas pemantau independen inilah yang harus bersura,” harap Rois.  yat

tim pembela si abang ngancem

•April 27, 2007 • 12 Comments

Wah berabe nih

Udah ada maen ancem-anceman segala.

Padahal kite orang cuma ngasih tahu ape-adenye. Masa pake mau digeruduk segala.

Anak betawi
- anti ancem-mangancem

ngancem-ni-ye.jpg

Tim Pembela Foke Ancam Dua Blog

Jumat, 27 April 2007, 12:51:57

Jakarta, Rakyat Merdeka. Tim Pembela Foke atau Fauzi Bowo, gusar dengan kampanye hitam yang dilancarkan dua blog yang isinya menjelek-jelekan cagub dari koalisi besar ini.

Mereka mengancam untuk melakukan tindakan tegas dan memberikan waktu 3×24 jam untuk segera menghentikan aktivitasnya.

Dalam surat pernyataan yang diterima Situs Berita Rakyat Merdeka dari sebuah surat elektronik (email), siang ini (Jumat, 27/4), Tim Pembela Foke menilai isi kedua blog itu menyesatkan dan data-datanya sangat meragukan. Dikhawatirkan hal ini akan menyesatkan warga pemilih Jakarta.

“Hentikan segera kegiatan Anda! Sebelum kemarahan melanda para pendukung Foke yang tersebar di seantero Jakarta,” demikian isi ancama dalam surat dengan atas nama Jiro S, Komandan TPF Wilayah Metro Jakarta, Bekasi, Tangerang, Depok dan sekitarnya.

Kedua blog yang membuat gusar pendukung Foke itu adalah http://bangfauziwatch.wordpress.com dan http://foke.blogspot.com.

Situs pertama memang mengususng tagline “Mengungkap kebenaran untuk warga Jakarta tanpa tedeng aling-aling dan apa adanya gitu loch!” Secara isi memang blog ini hanya berupa kritikan atau komentar dari pemberitaan media massa. Kritikannya cukup membangun seperti dalam tulisan berjudul “Si Abang Katanye Duktur Tata Kote”

“Si abang kite katanya doktor tata kote. Tapi kenapa Jakarta malah jadi kota sakit kebanyakan mol. Ilmu tata kotanye di taroh di mana sama si abang…?” demikian tulis pengelola blog yang tidak diketahui identitasnya.

Blog kedua lebih provokatif. Tagline-nya saja sudah menyandingkan Foke dengan permasalahan di Jakarta: “Hidup Foke=Hidup Korupsi=Hidup Judi=Hidup Banjir=Hidup DBD”. Isi situs juga berisi berita-berita dari Situs Berita Rakyat Merdeka yang diambil utuh (copy paste). yat

si abang katanye duktuur tata kote

•April 25, 2007 • 5 Comments

si abang kite katanya doktor tata kote.

Tapi kenapa Jakarta malah jadi kota sakit kebanyakan mol.

Ilmu tata kotanye di taroh di mana sama si abang….?

 Anak betawi
-pengen banget ngamalin elmu

 24/04/2007 14:24 WIB

Eks Walikota Bogota: Ciri Kota Sakit, Mal Ada di Mana-mana

Ramadhian Fadillah – detikcom

Jakarta – Pembangunan mal di kota-kota besar tidak selamanya menunjukkan
citra positif. Bisa jadi justru negatif. Mantan Walikota Bogota, Kolombia,
Enrique Penalosa, menilai ciri kota sakit bisa dilihat dari banyaknya jumlah
mal.

Makin banyak jumlah mal, makin sakitlah kota tersebut. Karena pembangunan
mal dipastikan telah memangkas ruang publik.

Kota yang baik, menurut Penalosa dalam seminar di Hotel Mandarin Oriental,
Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (24/4/2007), adalah kota yang bisa
menyediakan kebahagiaan bagi penduduknya yang bukan diukur dari pendapatan
perkapita atau kemajuan teknologinya.

“Kota yang baik membutuhkan tempat untuk penduduk dapat berjalan kaki,
penduduknya harus bisa berkumpul bersama,” ujar Penalosa.

Ketika mal menggantikan ruang publik sebagai tempat bertemu warga, maka kota
itu bisa dicirikan sebagai kota yang sakit.

Sebab pembangunan mal hanya menciptakan jurang perbedaan antara si kaya dan
si miskin. Mal hanya mencegah orang miskin tidak masuk ke dalamnya.
“Memisahkan antara si kaya dan si miskin. Jelas orang miskin tidak akan
merasa nyaman di mal,” tegas dia.

Kota yang baik, imbuhnya, harus menghormati harga diri manusia. “Di kota
maju seperti New York, London dan Paris saja, masyarakat masih bisa
berkumpul di ruang-ruang publik seperti jalan dan taman kota. Di mana semua
orang memiliki hak yang sama,” katanya.

Pembangunan trotoar untuk warga adalah simbol demokrasi yang menunjukkan
pemerintah menghargai orang yang berjalan kaki. “Mereka sama pentingnya
dengan orang yang mengendarai mobil seharga 20 ribu dolar,” ujarnya.

(umi/asy)

Ngancem ni ye..

•April 24, 2007 • 1 Comment

Ade gusip, demi nyuksesin si abang, ada warga dan organisasi yang diancem bakal nggak lagi nerima bantuan dari pemda kalo si abang kagak jadi gubernur.

Bujug dah…!

Anak betawi
- anti ancam-mengancam

 

Didukung Cendana Bo!

•April 24, 2007 • 2 Comments

Katanya si abang di dukung Cendana loh.

Gile dong…!
Kecipratan duit Cendana?
Wah berabe tuh!

Anak Betawi
- Anti uang nggak jelas 

Cendana Dukung Fauzi Jadi Gubernur DKI

Jakarta, 1 Maret 2007

Keluarga Cendana ikut berkepentingan pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI 2007. Dari sebuah sumber yang cukup dipercaya, pihak Cendana memberi suport ke Fauzi Bowo untuk maju mencalonkan diri. Sumber itu menyebutkan, selain Cendana, Ketua Umum Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) R Hartono juga mendorong Fauzi Bowo untuk maju dalam pemilihan gubernur DKI Agustus mendatang.

Ketika dikonfirmasi, Hartono membenarkan. Kata dia, PKPB akan mensuport pencalonan Fauzi Bowo.  “Kalau kita bicara soal pemimpin daerah yakni bagaimana kedekatannya dengan rakyat, Fauzi  sangat memperhatikan hal-hal seperti itu,” kata Hartono, Kamis (1/3). Hartono mengatakan, pihaknya sudah menentukan sikap sejak sebulan lalu.  “Dia itu sudah lama berkecimpung di birokrat. Kalau gak salah sudah 30 tahun, latar belakang pendidikannya sangat mendukung. Saya sangat dekat dengan beliau,” katanya.

Menurut Hartono, sebelum memutuskan untuk memberi dukungan pada Fauzi, ada tujuh calon yang kita seleksi. Namun di DPP nampaknya Fauzi Bowo yang dinilai paling cocok menjadi Gubernur DKI Jakarta,” tegas Hartono. Pihaknya, lanjut Hartono, sudah memberikan surat resmi dukungan kepada Fauzi Bowo. “Dan mudah-mudahan itu menjadi kekuatan dirinya menuju kursi gubernur,” katanya.

Mengenai wakil gubernur, PKPB menyerahkan sepenuhnya kepada Fauzi Bowo, apakah dari sipil atau militer. “Tapi saya sarankan kepada Fauzi bahwa wagub DKI mendatang tetap harus tahu seluk-beluk dan permasalahan ibu kota,” katanya.
Saat ditanya apakah ada rencana PKPB berkoalisi dengan partai lain agar dapat menambah perolehan suara saat pilkada Agustus mendatang,  Hartono mengatakan, itu menjadi tugas tim sukses Fauzi Bowo.

Sumber, Klik disini!

Kekepin Jabatan buat pribadi

•April 24, 2007 • 1 Comment

Aturan sih aturan. Tapi kalo nggak etis ya tetep aja bikin geregetan.

Pegimana si abang mau mundur, disuruh cuti secepetnya aja kagak mau. Kesannya kayak orang ngekepin jabatan, buat dimanpaatin untuk kepentingan pribadi. Malu dong ah sama Bang Totok. Hehehe…

Anak betawi
- anti ngekepin jabatan buat kepentingan pribadi

Fauzi Bowo Harusnya Cuti Jika Tidak Ingin Dinilai Curi Start

Arfi Bambani Amri – detikcom  Jakarta – Wakil Gubernur Fauzi Bowo yang sudah menyatakan diri sebagai calon gubernur DKI Jakarta seharusnya cuti dari jabatannya, walau putaran pilkada belum resmi dimulai. Jika tidak, Fauzi Bowo dinilai tidak etis karena mencuri start dengan memanfaatkan jabatannya. “Karena Fauzi Bowo mencalonkan diri, harusnya dia minimal cutilah. Lebih baik lagi mengundurkan diri, ujar Ketua Badan Pemenangan Pemilu PAN Totok Daryanto dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (20/4/2007).

Berdasarkan PP 25/2007 yang baru keluar beberapa hari lalu, seorang incumbent yang mencalonkan diri harus cuti selama masa kampanye. “Nah, walau aturannya harus selama kampanye, tapi keberadaan peraturan itu kan untuk menjamin demokrasi berjalan secara fair. Harusnya seorang kepala daerah yang ikut pilkada, yang memiliki moralitas yang baik tidak melakukan aktivitas-aktivitas dalam jabatannya yang bisa ditafsirkan sebagai kampanye,” ujar Totok.

Namun Totok menyebutkan Fauzi Bowo memang belum bisa dikatakan melanggar PP 25/2007 itu. Soalnya, pendaftaran resmi nama-nama calon yang akan bersaing belum dibuka.

“Namun masyarakat kan bisa menilai, mana calon-calon yang mencuri start. Saya kira itu akan merugikan orang yang mencuri start itu sendiri,” tandas Totok. Bagaimana Pak Fauzi Bowo? (aba/nrl)

Belon jadi Gubernur, udah ngecewain

•April 24, 2007 • Leave a Comment

Ah si abang, belon jadi gubernr, udah ngecewain. Apalagi yang dikecewain adalah teman seiring. Berabe juga punya cagub angot-angotan.  Kalo dah jadi, jangan-jangan rakyat jadi korban. Duh..duh!

Anak Betawi

- selalu berusaha tak ingkari janji

Fauzi Bowo Kecewakan DPP PPP
Laporan Wartawan Kompas Imam Prihadiyoko

JAKARTA
, KOMPAS – Suasana menjelang pilkada Gubernur DKI Jakarta semakin menghangat, dan berbagai upaya dilakukan para kandidat untuk memelihara dukungan partai politik. Namun, kandidat gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang didukung koalisi 16 partai politik justru mengecewakan Partai Persatuan Pembangunan.Hal ini disampaikan Sekjen PPP Irgan Chairul Mahfiz ketika menghubungi Kompas dari
Jakarta, Minggu (22/4). “Fauzi Bowo Centre  sebagai tim kampanye, intensif menggalang dukungan diantaranya mengirimkan surat ke DPP PPP bahwa Calon Gubernur Fauzi Bowo akan bersilaturrahmi dengan Pengurus Harian DPP PPP Sabtu (22/4) kemarin di Kantor DPP PPP, namun batal hadir tanpa pemberitahuan sama sekali,” ujar Irgan.
Padahal DPP PPP, termasuk Ketua Umum Suryadharma Ali menurut Irgan, telah menyiapkan diri untuk menerima kehadiran Fauzi Bowo. “Ketidakhadiran Fauzi Bowo tanpa pemberitahuan ini tentu sangat mengecewakan, belum jadi Gubernur sudah mengingkari janji, padahal PPP partai pendukung koalisi,” ujar Irgan.— cut —-

Nyamukgate!

•April 13, 2007 • 4 Comments

 No comment deh ah!

Anak Betawi
malu buat komentar